Sabtu, 03 Maret 2012

TIPE-TIPE DAN JENIS-JENIS BELAJAR TIPE-TIPE DAN JENIS-JENIS BELAJAR

NAMA                                     : ANGGUN SEINI KUBA
NIM                                           : 11011200046
JUR/LOKAL                           : PAI/III Model
TUGAS MANDIRI                : Psikologi Pembelajaran (Tugas 4)
DOSEN PENGAMPU             : Drs. Suardi Syam, M.Ag


TIPE-TIPE DAN JENIS-JENIS
BELAJAR


A.    Tipe-Tipe Belajar
      Manusia memiliki beragam potensi, karakter, dan kebutuhan dalam belajar. Karena itu banyak tipe-tipe belajar yang dilakukan manusia.
Menurut Robert M.Gagne ada delapan tipe-tipe belajar :
  1. Belajar isyarat (signal learning). Menurut Gagne, ternyata tidak semua reaksi sepontan manusia terhadap stimulus sebenarnya tidak menimbulkan respon.dalam konteks inilah signal learning terjadi.
Contohnya yaitu seorang guru yang memberikan isyarat kepada muridnya yang gaduh dengan bahasa tubuh tangan diangkat kemudian diturunkan.
  1. Belajar stimulus respon (stimulus respon learning). Belajar tipe ini memberikan respon yang tepat terhadap stimulus yang diberikan. Reaksi yang tepat diberikan penguatan (reinforcement) sehingga terbentuk perilaku tertentu (shaping).
Contohnya yaitu seorang guru memberikan suatu bentuk pertanyaan atau gambaran tentang sesuatu yang kemudian ditanggapi oleh muridnya. Guru member pertanyaan kemudian murid menjawab.
  1. Belajar merantaikan (chaining). Tipe ini merupakan belajar dengan membuat gerakan-gerakan motorik sehingga akhirnya membentuk rangkaian gerak dalam urutan tertentu.
Contohnya yaitu pengajaran tari atau senam yang dari awal membutuhkan proses-proses dan tahapan untuk mencapai tujuannya.
  1. Belajar asosiasi verbal (verbal association). Tipe ini merupakan belajar menghubungkan suatu kata dengan suatu obyek yang berupa benda, orang atau kejadian dan merangkaikan sejumlah kata dalam urutan yang tepat.
Contohnya yaitu membuat langkah kerja dari suatu praktek dengan bantuan alat atau objek tertentu. Membuat prosedur dari praktek kayu.
  1. Belajar membedakan (discrimination). Tipe belajar ini memberikan reaksi yang berbeda–beda pada stimulus yang mempunyai kesamaan.
Contohnya yaitu seorang guru memberikan sebuah bentuk pertanyaan dalam berupa kata-kata atau benda yang mempunyai jawaban yang mempunyai banyak versi tetapi masih dalam satu bagian dalam jawaban yang benar. Guru memberikan sebuah bentuk (kubus) siswa menerka ada yang bilang berbentuk kotak, seperti kotak kardus, kubus, dsb.
  1. Belajar konsep (concept learning). Belajar mengklsifikasikan stimulus, atau menempatkan obyek-obyek dalam kelompok tertentu yang membentuk suatu konsep. (konsep : satuan arti yang mewakili kesamaan ciri).
Contohnya yaitu memahami sebuah prosedur dalam suatu praktek atau juga teori. Memahami prosedur praktek uji bahan sebelum praktek, atau konsep dalam kuliah mekanika teknik.
  1. Belajar dalil/aturan (rule learning). Tipe ini merupakan tipe belajar untuk menghasilkan aturan atau kaidah yang terdiri dari penggabungan beberapa konsep. Hubungan antara konsep biasanya dituangkan dalam bentuk kalimat.
Contohnya yaitu seorang guru memberikan hukuman kepada siswa yang tidak mengerjakan tugas yang merupakan kewajiban siswa, dalam hal itu hukuman diberikan supaya siswa tidak mengulangi kesalahannya.
  1. Belajar memecahkan masalah (problem solving). Tipe ini merupakan tipe belajar yang menggabungkan beberapa kaidah untuk memecahkan masalah, sehingga terbentuk kaedah yang lebih tinggi (higher order rule).
Contohnya yaitu seorang guru memberikan kasus atau permasalahan kepada siswa-siswanya untuk memancing otak mereka mencari jawaban atau penyelesaian dari masalah tersebut

Selain delapan jenis belajar, Gagne juga membuat semacam sistematika tipe belajar. Menurutnya sistematika tersebut mengelompokkan hasil-hasil belajar yang mempunyai ciri-ciri sama dalam satu katagori.
Kelima hal tersebut adalah :
  1. Keterampilan intelektual : kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungannya dengan menggunakan symbol huruf, angka, kata atau gambar.
  2. Informasi verbal : seseorang belajar menyatakan atau menceritakan suatu fakta atau suatu peristiwa secara lisan atau tertulis, termasuk dengan cara menggambar.
  3. Strategi kognitif : kemampuan seseorang untuk mengatur proses belajarnya sendiri, mengingat dan berfikir.
  4. Keterampilan motorik : seseorang belajar melakukan gerakan secara teratur dalam urutan tertentu (organized motor act). Ciri khasnya adalah otomatisme yaitu gerakan berlangsung secara teratur dan berjalan dengan lancar dan luwes.
  5. Sikap keadaan mental yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan pilihan-pilihan dalam bertindak
B.     Jenis-Jenis Belajar
Sebenarnya jenis-jenis belajar ini banyak sekali pengklasifikasiannya menurut para ahli. Salah satu sistematika jenis-jenis belajar menurut salah satu ahli yaitu A.De Block, yaitu :
 a. Jenis-jenis belajar berdasarkan bentuk psikis, terdiri dari :
Belajar dinamik/konatif
Belajar dinamik/konatif adalah belajar yang bercirikan bahwa orang itu mempunyai kehendak. Berkehendak suatu aktivitas psikis yang terarah pada pemenuhan suatu kebutuhan yang disadari atau dihayati
Belajar afektif
Belajar afektif adalah belajar menghayati nilai dari objek-objek (bisa orang, benda, atau peristiwa) yang dihadapi melalui alam perasaan. Atau dapat dikatakan belajar mengungkapkan perasaan dalam bentuk ekspresi yang wajar.
Belajar kognitif: mengingat, berpikir
Belajar kognitif adalah belajar memperoleh dan menggunakan bentuk-bentuk representasi yang mewakili objek-objek yang dihadapi, dan ini merupakan proses mental. Terdiri dari mengingat dan berpikir. Mengingat dapat dibedakan menjadi dua peristiwa, yaitu rekognisi (mengenal kembali), dan reproduksi (mengingat kembali). Sedangkan berpikir mempunyai syarat harus mengenai pengetahuan yang tepat, berupa fakta. Fakta dan data menjadi bahan baku untuk berpikir.
Belajar sensori-motorik, mengamati, bergerak, berketerampilan
Belajar sensori-motorik merupakan belajar menghadapi dan menangani objek-objek fisik.

b. Jenis-jenis belajar berdasarkan materi yang dipelajari, terdiri dari :
Belajar teoritis
Belajar teoritis merupakan data dan fakta (pengetahuan) dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapat dipahami dan digunakan untuk memecahkan problem.
Belajar teknis
Belajar teknis atau praktis adalah belajar dalam mengembangkan keterampilan. Belajar teknis dapat berjalan dengan baik apabila jenis belajar yang lain telah dipahami. Atau dapat dikatakan bahwa belajar teknis mempunyai syarat, yaitu belajar fakta, konsep, dan prinsip.
Belajar sosial atau bermasyarakat
Belajar bermasyarakat adalah belajar untuk hidup bersama.
Belajar estetis
Belajar estetis adalah belajar untuk membentuk kemampuan menciptakan dan menghayati keindahan.

c. Jenis-jenis belajar yang tidak begitu disadari, terdiri dari :
Belajar insedental
Belajar insidental merupakan belajar sampingan dari belajar yang sebenarnya. Maksudnya adalah dalam belajar sesuatu dengan tujuan tertentu, masih ada hal lain yang dipelajari yang sebenarnya tidak menjadi sasaran.
Belajar dengan mencoba-coba
Belajar dengan coba-coba adalah jenis belajar yang didapatkan dengan mencoba-coba. Hal ini biasanya terjadi karena belum ada teori yang mendahului apa yang akan dipelajari.
Belajar tersembunyi
Belajar tersembunyi adalah jenis belajar di mana yang mengetahui tentang tujuan hanya guru. Siswa tidak tahu bahwa yang ia lakukan adalah suatu yang mempunyai tujuan. Atau dapat dikatakan siswa tidak sadar kalau ia sedang belajar, padahal ia sedang belajar.

Namun, disini ada juga jenis-jenis belajar menurut gabungan dari tiga ahli (A. De Block, Robert M. Gagne dan C. Van Parreren), ada beberapa jenis-jenis belajar, yaitu :
1.      Belajar arti kata-kata. Belajar arti kata-kata maksudnya adalah orang mulai menangkap arti yang terkandung dalam kata-kata yang digunakan.
2.      Belajar Kognitif. Tak dapat disangkal bahwa belajar kognitif bersentuhan dengan masalah mental. Objek-objek yang diamati dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan, atau lambang yang merupakan sesuatu bersifat mental.
3.      Belajar Menghafal. Menghafal adalah suatu aktivitas menanamkan suatu materi verbal dalam ingatan, sehingga nantinya dapat diproduksikan (diingat) kembali secara harfiah, sesuai dengan materi yang asli, dan menyimpan kesan-kesan yang nantinya suatu waktu bila diperlukan dapat diingat kembali kealam dasar.
4.      Belajar Teoritis. Bentuk belajar ini bertujuan untuk menempatkan semua data dan fakta (pengetahuan) dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapat difahami dan digunakan untuk memecahkan problem, seperti terjadi dalam bidang-bidang studi ilmiah.
5.      Belajar Konsep. Konsep atau pengertian adalah satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri-ciri yang sama, orang yang memiliki konsep mampu mengadakan abstraksi terhadap objek-objek yang dihadapinya, sehingga objek ditempatkan dalam golongan tertentu. Konsep dibagi menjadi dua, yaitu konsep yang sederhana yaitu pola unsur bersama diantara anggota kumpulan atau rangkaian dan konsep yang lebih tinggi yang mempunyai hubungan dengan konsep dasar.
6.      Belajar Kaidah. Belajar kaidah (rule) termasuk dari jenis belajar kemahiran intelektual (intellectual skill), yang dikemukakan oleh Gagne. Belajar kaidah adalah bila dua konsep atau lebih dihubungkan satu sama lain, terbentuk suatu ketentuan yang mereprensikan suatu keteraturan.
7.      Belajar Berpikir. Dalam belajar ini, orang dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan, tetapi tanpa melalui pengamatan dan reorganisasi dalam pengamatan.masalah harus dipecahkan melalui operasi mental, khususnya menggunakan konsep dan kaidah serta metode-metode bekerja tertentu.



REFERENSI :
http://zaifbio.wordpress.com/2009/01/30/hakikat-belajar-2/ 

HAKIKAT BELAJAR DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

NAMA                                   : ANGGUN SEINI KUBA
NIM                                        : 11011200046
JUR/LOKAL                        : PAI/III Model
TUGAS MANDIRI             : Psikologi Pembelajaran (Tugas 3)
DOSEN PENGAMPU          : Drs. Suardi Syam, M.Ag

HAKIKAT BELAJAR DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

A.    Pengertian Belajar
      Belajar yaitu usaha yang disadari dan menghasilkan pengetahuan baru yang membuat kita bisa berubah dari yang tidak tahu menjadi tahu. Usaha tersebut karena adanya kesadaran dalam beraktifitas untuk memenuhi kebutuhan. Hasil dari belajar adalah perubahan dan disebut aktivitas belajar, contohnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mau menjadi mau, dan lain sebagainya. Namun demikian tidak semua perubahan pasti merupakan peristiwa belajar, misalnya perubahan karena pertumbuhan jasmani.

      Belajar merupakan proses mencapai tujuan, dan bukan hasil atau tujuan. Sedangkan yang dimaksud perubahan dalam belajar adalah perubahan yang relatif, konstan, dan berbekas. Relatif artinya ada kalanya suatu hasil belajar ditiadakan atau dihapus dan digantii dengan yang baru, dan ada kemungkinan suatu saat hasil belajar terlupakan. Hal ini tergantung dari kebutuhan belajar saat itu, karena belajar terjadi dalam interaksi dengan lingkungan. Dengan demikian relatif tersebut dalam arti tergantung dari perubahan lingkungan. Konstan dan berbekas maksudnya bahwa perubahan dalam belajar harus menjadi milik pribadi, artinya perubahan itu akan bertahan lama, sehingga bila digunakan akan segera dapat direproduksi.

B.     Ciri-Ciri Belajar
  1. Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan tingkah laku bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), maupun nilai dan sikap (afektif).
  2. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja melainkan menetap atau dapat disimpan.
  3. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja melainkan harus dengan usaha. Perubahan terjadi akibat interaksi dengan lingkungan.
  4. Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan fisik/ kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan.

      Secara rinci dapat dijelaskan ciri-ciri belajar atau perubahan yang dimaksud dalam belajar adalah sebagai berikut:
1.      Intensional
Intensional maksudnya disengaja, disadari, dan bukan karena suatu kebetulan. Dengan demikian perubahan yang dimaksud merupakan perubahan yang mempunyai tujuan tertentu. Hanya saja syarat ini tidak mutlak sifatnya, karena kadangkala ada perubahan yang terjadi dengan tidak disadari. Misalnya pengalaman.
2.      Positif
Positif yang dimaksud dalam perubahan ini adalah perubahan harus sesuai yang diharapkan secara normatif atau berdasarkan kriteria keberhasilan. Bila dilihat dari syarat nomer satu sebenarnya perubahan tidak harus positif, asalkan sesuai dengan tujuan. Apapun tujuan tersebut, misalnya belajar mencuri, belajar menyontek, dan lain sebagainya. Namun demikian karena belajar dimaksudkan untuk menuju pada pekembangan anak didik yang positif, maka syarat ke dua ini diperlukan.
3.      Efektif
Efektif yang dimaksudkan adalah perubahan itu harus mempunyai pengaruh dan makna tertentu bagi siswa yang bersangkutan.
4.       Fungsional
 Fungsional yang dimaksudkan adalah perubahan harus bersifat relatif tetap, sehingga setiap saat   dapat direproduksi.

Ciri-ciri belajar di atas dapat memberi batasan perubahan dalam belajar, yaitu:
1. Belajar merupakan proses mencapai tujuan, dan bukan hasil atau tujuan.
2. Proses terjadi melalui interaksi dengan lingkungan.
3. Dalam belajar diperlukan tujuan, bahan pelajaran, perencanaan yang matang, dan kegiatan, dimana   
    guru banyak terlibat langsung dan perubahan harus menunjukkan perubahan tingkah laku.

         Dengan demikian perubahan-perubahan yang tidak memiliki ciri-ciri di atas tidak dapat dikatakan sebagai belajar. Contoh perubahan yang bukan merupakan belajar adalah: perubahan karena pertumbuhan jasmani, perubahan akibat kelelahan fisik, perubahan karena menggunakan obat, perubahan akibat penyakit parah atau trauma.



C.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
      Belajar sebagai proses atau aktivitas disyaratkan oleh banyak sekali hal-hal atau faktor-faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar itu banyak sekali macamnya, akan tetapi untuk secara umum yang mempengaruhi proses hasil belajar dibedakan atas dua kategori, yaitu faktor eksternal (berasal dari luar) dan faktor internal (berasal dari dalam).
1.      Faktor Eksternal (Berasal dari luar diri pelajar), faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan nonsosial dan faktor lingkungan sosial.

Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah:
a.  Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dantenang. Lingkungan alamiah tersebut mmerupakan faktor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan alam tidak mendukung, proses belajar siswa akan terlambat.
b. Faktor instrumental, yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar,fasilitas belajar, lapangan olah raga dan lain sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, bukupanduan, silabi dan lain sebagainya.
c. Faktor materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa). Faktor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan siswa begitu juga dengan metode mengajar guru, disesuaikandengan kondisi perkembangan siswa. Karena itu, agar guru dapat memberikan kontribusi yang postif terhadap aktivitas belajar siswa, maka guru harus menguasai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat diterapkan sesuai dengan konsdisi siswa.    

Faktor-faktor yang termasuk lingkungan sosial adalah:
a. Lingkungan sosial sekolah, seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan harmonis antra ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baikdisekolah. Perilaku yang simpatik dan dapat menjadi teladan seorang guru atau administrasi dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk belajar.
b.  Lingkungan sosial masyarakat. Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran dan anak terlantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajarsiswa, paling tidak siswa kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilkinya.
c.  Lingkungan sosial keluarga. Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaan keluarga, semuannya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Hubungan antara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.

2.      Faktor Internal (Berasal dari dalam diri pelajar), faktor-faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis.
Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu.

Faktor-faktor ini dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
 Pertama, keadaan tonus jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas belajar seseorang . kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena itu keadaan tonus jasmani sangat memengaruhi proses belajar , maka perlu ada usaha untuk menjaga kesehatan jasmani.
            Kedua, keadaan fungsi jasmani/fisiologis. Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologis pada tubuh manusia sangat memengaruhi hasil belajar, terutama panca indra. Panca indra yang berfunsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar dengan baik pula.

Faktor –faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar.
            Beberapa faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi , minat, sikap dan bakat.

Menurut Arden N. Frandsen, hal yang mendorong seseorang untuk belajar adalah :
a.       Adanya sifat ingin tahu,
b.      Adanya sifat yang kreatif,
c.       Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati,
d.      Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan,
e.       Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman,
f.       Adanya ganjaran atau hukuman.

            Sedangkan Maslow, mengemukakan motif-motif untuk belajar ialah :
a.       Adanya kebutuhan fisik,
b.      Adanya kebutuhan rasa aman,
c.       Adanya kebutuhan akan kecintaan dan penerimaan,
d.      Adanya kebutuhan untuk mendapat kehormatan,
e.       Sesuai dengan sifat untuk mengemukakan atau mengetengahkan diri.


REFERENSI :
Suryabrata, Sumadi. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada


PERKEMBANGAN INDIVIDU & HUBUNGANNYA DENGAN BELAJAR PERKEMBANGAN INDIVIDU & HUBUNGANNYA DENGAN BELAJAR PERKEMBANGAN INDIVIDU & HUBUNGANNYA DENGAN BELAJAR PERKEMBANGAN INDIVIDU & HUBUNGANNYA DENGAN BELAJAR

NAMA                                   : ANGGUN SEINI KUBA
NIM                                        : 11011200046
JUR/LOKAL                        : PAI/III Model
TUGAS MANDIRI             : Psikologi Pembelajaran (Tugas 2)
DOSEN PENGAMPU          : Drs. Suardi Syam, M.Ag


PERKEMBANGAN INDIVIDU & HUBUNGANNYA
DENGAN BELAJAR


A.    Perkembangan Individu & Hubungannya dengan Belajar
      Perkembangan individu murid, siswa, dan mahasiswa (peserta didik), ditunjukkan bagaimana perkembangan anak-anak, remaja dan dewasa tumbuh dan berkembang secara pisik, psikis dari fase ke fase seperti dalam hal pertumbuhan pisik, kognitif, afektif, sosial, psikomotor, moral. Proses pengajaran dan pembelajaran tidak akan bisa berjalan efektif dan efisien apabila seorang pendidik tidak memahami perkembangan peserta didik secara menyeluruh. Untuk itu pendidik memerlukan pengetahuan tentang perkembangan individu peserta didik.

      Perkembangan individu merupakan perubahan yang sistematis, progresif, dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan-perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya. Yang dimaksud perubahan yang sistematis yaitu perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya baik fisik maupun psikis dan meupakan satu kesatuan yang harmonis. Progresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan meluas, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Berkesinambungan berarti bahwa perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan. Perkembangan individu secara pisik terjadi sesuai dengan fase-fase perkembangan, sedangkan secara psikis terjadi perubahan imajinasi fantasi ke realistis.

      Manusia membutuhkan kepandaian yang bersifat jasmaniah dan rohaniah, dan ini dapat dicapai melalui belajar. Meskipun bayi yang baru lahir membawa beberapa naluri dan insting dan potensi-potensi, tetapi potensi tersebut tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya pengaruh dari luar. Untuk itu manusia membutuhkan belajar sepanjang kehidupannya, kapanpun dan dimanapun.


Para ahli mendifinisikan belajar sebagai berikut:
1. Menurut Hilgard, belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan (apakah dalam laboratorium atau dalam lingkungan alamiah).
2. Morgan, belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
3. James P. Chaplin, learning (hal belajar, pengetahuan), yang berarti perolehan dari sembarang perubahan yang relative permanen dalam tingkah laku sebagai hasil praktek atualisasi pengalaman.

Sumadi Suryabrata menyimpulkan:
1. Belajar itu membawa perubahan
2. Perubahan itu ada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru
3. Perubahan itu terjadi karena usaha

Menurut Havinghurst yang dikutip oleh Made Pidarta, fase-fase perkembangan pada manusia sejak dari masa kanak-kanak sampai masa tua ada enam fase, yaitu:
1. Fase perkembangan masa kanak-kanak
2. Fase perkembangan masa anak
3. Fase perkembangan masa remaja
4. Fase perkembangan masa dewasa awal
5. Fase perkembangan masa setengah baya
6. Fase perkembangan masa tua

B.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan
Antara kata pertumbuhan dan perkembangan keduanya mempunyai arti yang berbeda karena suatu yang tumbuh adalah suatu yang bersifat material dan kuantitatif sedangkan yang berkembang adalah suatu yang bersifat fungsional dan kuantitatif.
Ada garis besar yang merupakan faktor terpengaruhnya pertumbuhan dan perkembangan pada seorang anak, yaitu :
1.      Faktor Intern, faktor yang muncul dari dalam diri anak / dari keturunan.
2.      Faktor Ekstern, faktor yang muncul dari luar diri anak / dari pengalaman dan interaksinya dengan lingkungan.





Dan ada juga kedua faktor tadi di dalam hal ini ada tiga teori :
1.      Teori Rativisme, berpendapat bahwa sejak lahir anak telah memiliki sifat-sifat / dasar-dasar tertentu.
2.      Teori Empirisme, berpendapat bahwa sejak lahir anak tidak memiliki sifat-sifat / dasar-dasar tertntu semata-mata ditentukan faktor dari luar. 
3.      Teori Konvergensi, berpendapat bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak itu ditentukan sebagai akibat interaksi.

C.    Prinsip  atau Hukum Hereditas
               Perkembangan individu memiliki pengaruh dengan belajar, salah satunya adalah perubahan tingkah laku. Untuk mengetahui tingkah laku seseorang dapat diketahui dengan adanya faktor hereditas. Yang disebut faktor hereditas adalah : sifat-sifat / ciri-ciri yang diperoleh oleh seseorang anak atas dasar keturunan atau pewarisan dari generasi ke generasi melalui sel benih.
Dapat berlangsung menurut prinsip-prinsip / houkum-hukum tertentu yaitu :
1.      Prinsip Reproduksi, melalui prinsip reproduksi orang tua bisa mewariskan sel benihnya kepada generasinya.
2.      Prinsip Konformitasi, bahwa setiap jenis makhluk menurunkan jenisnya sendiri.
3.      Prinsip Variasi, selain mewarisi ciri-ciri yang umum yang sama juga mewariskan sifat berbeda lainnya.
4.      Prinsip Regresi Fillial, menunjukkan sifat menonjol kedua-duanya misal : meskipun orang tuanya cerdas, generasinya akan sedang-sedang tak secerdas orang tuanya.
   


REFERENSI :
Tohirin. 2006. Psikologi Pembelajaran PAI. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada

PENGERTIAN DAN OBJEK PSIKOLOGI PEMBELAJARAN PENGERTIAN DAN OBJEK PSIKOLOGI PEMBELAJARAN

NAMA                                   : ANGGUN SEINI KUBA
NIM                                        : 11011200046
JUR/LOKAL                        : PAI/III Model
TUGAS MANDIRI             : Psikologi Pembelajaran (Tugas 1)
DOSEN PENGAMPU          : Drs. Suardi Syam, M.Ag


PENGERTIAN DAN OBJEK
 PSIKOLOGI PEMBELAJARAN


A.    Pengertian dan Objek Psikologi Pembelajaran
      Psikologi secara etimologi berasal dari dua suku kata yaitu psik (jiwa) dan logos (ilmu). Atau psikologi disebut juga dengan ilmu jiwa. Sedangkan psikologi secara terminologi adalah suatu ilmu yang menyelidiki serta mempelajari sikap, tingkah laku atau aktivitas-aktivitas di mana sikap, tingkah laku, atau aktivitas-aktivitas itu sebagai manifestasi hidup kejiwaan. Jadi, objek psikologi adalah jiwa.

      Sedangkan, psikologi pembelajaran secara etimologi berasal dari dua kata yaitu psikologi dan pembelajaran. Pengertian psikologi telah dibahas sebelumnya, dan pengertian pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Beberapa prinsip yang menjadi landasan pengertian tersebut ialah :
  1. Pembelajaran sebagai suatu usaha memperoleh perubahan perilaku. Prinsip ini bermakna bahwa prosees pembelajaran itu ialah adanya perubahan perilaku dalam diri individu.
  2. Hasil pembelajarn ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan.
  3. Pembelajaran merupakan suatu proses. Prinsip ini mengandung makna bahwa pembelajaran merupakan suatu aktifitas yang berkesinambungan.
  4. Proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan ada suatu tujuan yang ingin dicapai.
  5. Pembelajaran merupakan suatu pengalaman.
      Jadi, psikologi pembelajaran adalah cabang psikologi secara khusus mengkaji berbagai perilaku individu dalam kaitannya dengan pendidikan, tujuannya untuk menemukan fakta, generalisasi, dan teori psikologis yang berkaitan dengan pendidikan untuk digunakan dalam upaya melaksanakan proses pendidikan yang efektif. Dan objek psikologi pembelajaran adalah pendidik (guru) dan peserta didik (murid).

B.     Peranan Psikologi dalam Pembelajaran dan Pengajaran
        Peranan psikologi dalam pembelajaran dan pengajaran yaitu : memahami siswa sebagai pelajar, memahami prinsip dan teori pembelajaran, memilih metode-metode pengajaran, menetapkan tujuan pembelajaran, menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif, memilih dan menetapkan isi pengajaran, membantu siswa yang mendapat kesulitan dalam pembelajaran, memilih alat bantu pengajaran, menilai hasil pembelajaran, memaham kepribadian dan profesi guru, membimbing kepribadian siswa.

C.    Sejarah Munculnya Psikologi Pembelajaran
Awal mula munculnya psikologi pembelajaran berawal dari tokoh pertama, William James (1842-1910) memberikan serangkaian kuliah bertajuk “Talks to Teachers”. Dalam kuliah ini ia mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak. Ia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak.

Tokoh kedua, John Dewey (1859-1952) merupakan motor penggerak pengaplikasian psikologi dalam tingkat praktis, sehingga kemudian ia membangun laboratorium psikologi pendidikan pertama di Universitas Columbia Amerika Serikat (1894).
Beberapa kajian yang penting darinya adalah :
1.      Kita mendapatkan pandangan tentang anak sebagai pembelajar aktif (active learning), dimana anak bukan pasif duduk diam menerima pelajaran tetapi juga aktif agar proses belajar anak akan lebih baik.
2.      Pendidikan harus difokuskan pada anak secara keseluruhan dan kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Dewey percaya bahwa anak-anak seharusnya tidak mendapatkan pelajaran akademik saja, tetapi juga harus mempelajari cara untuk berpikir dan beradaptasi dengan lingkungan luar sekolah, seperti mampu untuk memecahkan masalah dengan baik.
3.      Dia juga berpendapat bahwa semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang selayaknya, mulai dari kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan, semua golongan etnis, sampai pada semua lapisan ekonomi-sosial.

Tokoh ketiga, E.L Thorndike (1874-1949) berpendapat bahwa salah satu tugas pendidikan di sekolah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran anak. Thorndike sangat ahli dalam melakukan studi belajar dan mengajar secara ilmiah. Thorndike mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis ilmiah dan harus berfokus pada pengukuran.


REFERENSI :